Tampilkan postingan dengan label Inspirational. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirational. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 April 2011

Kata - kata Kasar


Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika dia lewat. “Oh, maafkan saya” adalah reaksi saya. Ia berkata, “Maafkan saya juga; saya tidak melihat Anda.” Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal. Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana Kita memperlakukan orang-orang yang Kita kasihi, tua dan muda.
Pada Hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. “Minggir,” kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya. Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan erbicara padaku, “Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, etika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang. Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu.”
“Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda, kuning dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan dibuatnya bagimu, Dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu.” Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes.
Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, “Bangun, nak, bangun,” kataku. “Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?” Ia tersenyum, “Aku menemukannya jatuh dari pohon. “
“Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu. “Aku tahu Ibu akan menyukainya , terutama yang berwarna biru.”
Aku berkata, “Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi. “Anak manisku berkata, “Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu.” Akupun membalas, “Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru.”

Keberanian

Bertahun-tahun yang lampau, ketika aku bekerja sebagai sukarelawan di sebuah rumah sakit, aku mengenal seorang gadis kecil bernama Lisa yang mengidap penyakit langka yang sangat parah. Tampaknya satu-satunya peluangnya untuk sembuh adalah dengan melakukan transfusi darah dari adik laki-lakinya yang baru berusia lima tahun, yang secara menakjubkan tidak terkena serangan penyakit itu karena tubuhnya telah membangun anti bodi yang dibutuhkan untuk melawannya. Dokter yang menanganinya menjelaskan situasi itu kepada adik laki-laki gadis itu, dan bertanya apakah dia bersedia memberikan darahnya kepada kakak perempuannya. Aku melihat dia bimbang untuk beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas sangat dalam dan berkata, ‘Ya, aku akan melakukannya untuk menyelamatkan Lisa.’
“Ketika transfusi darah berlangsung, dia berbaring di ranjang di samping kakak perempuannya dan tersenyum, demikian juga kami, menyaksikan rona merah kembali muncul di pipi Lisa. Kemudian wajah anak laki-laki itu memucat dan senyumnya memudar. Dia memandang dokter di sampingnya dan bertanya lirih dengan suara gemetar, ‘Apa saya akan segera mati?’
“Karena masih kecil, anak laki-laki itu telah salah memahami penjelasan dokter tadi, dia pikir dia harus memberikan semua darahnya kepada kakak perempuannya.”

Cincin Emas

Beberapa waktu yang lalu, di Mesir hidup seorang sufi yang tersohor bernama Zun-Nun. Seorang pemuda mendatanginya dan bertanya :
“Guru, saya tidak mengerti mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya, amat sangat sederhana. Bukankah di zaman sakarang berpakaian rapi amat diperlukan, bukan hanya untuk penampilan namun juga untuk banyak hal lain.”
Sang sufi hanya tersenyum, ia lalu melepaskan cincin dari salah satu jarinya, lalu berkata:
“Sobat muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan satu hal untukku. Ambillah cincin ini dan bawalah ke pasar di seberang sana. Cobalah, bisakah kamu menjualnya seharga sekeping emas?”
Melihat cincin Zun-Nun yang kotor, pemuda tadi merasa ragu; “Satu keping emas. Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu.”
“Cobalah dulu sobat muda. Siapa tahu kamu berhasil.”
Pemuda itu pun bergegas ke pasar. Ia menawarkan cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata, tak seorang pun berani membeli seharga sekeping emas. Mereka hanya menawarnya seharga sekeping perak saja.
Tentu saja, pemuda itu tak berani menjualnya dengan harga sekeping perak. Ia kembali ke padepokan Zun-Nun dan melapor; “Guru, tak seorangpun berani menawar lebih dari satu keping perak.”
Sambil tetap tersenyum arif, Zun-Nun berkata, “Sekarang pergilah ke toko emas di ujung jalan ini. Coba perlihatkan kepada pemilik toko atau tukang emas di sana. Jangan buka harga. Dengarkan saja, bagaimana mereka memberi penilaian.”
Pemuda itu pun pergi ke toko emas yang dimaksud. Ia kembali kepada Zun-Nun dengan raut wajah yang lain. Kemudian dia melapor; “Guru, ternyata para pedagang di pasar tidak tahu nilai sesungguhnya dari cincin ini. Pedagang emas menawarnya dengan harga seribu keping emas. Rupanya nilai cincin ini lebih dari seribu kali dibanding dengan yang ditawar oleh para pedagang di pasar.”
Zun-Nun tersenyum simpul sambil berujar pelan; “Itulah jawaban atas pertanyaanmu tadi sobat muda. Seseorang tak bisa dinilai dari pakaiannya. Hanya “para pedagang sayur, ikan dan daging di pasar” yang menilai demikian. Namun tidak bagi “pedagang emas”.

Benih dari Kaisar

Suatu ketika di Timur Jauh ada seorang Kaisar yang sudah mulai tua dan menyadari bahwa saatnya telah tiba untuk mencari penggantinya. Bukannya memilih salah satu pembantunya atau salah seorang dari anak-anaknya, dia memutuskan untuk melakukan sesuatu yang lain.
Suatu hari dikumpulkannya semua anak muda di seluruh negeri. Dia berkata, “Waktunya telah tiba bagiku untuk turun tahta dan memilih kaisar penggantiku. Aku telah memutuskan untuk memilih salah satu dari kalian.” Semuanya terkejut!!
Tapi Kaisar terus melanjutkan. “Hari ini aku akan memberi kalian masing-masing sebutir benih. Ya sebutir benih saja. Benih ini sangat istimewa. Bawa pulang dan segeralah tanam benih ini, siramilah dan kembalilah kemari setahun lagi, tentu saja dengan membawa serta tanaman yang tumbuh dari benihmu masing-masing. Kemudian akan kunilai tanaman yang kau bawa kemari, pemenangnya akan kupilih menjadi kaisar menggantikan aku!”
Ada seorang anak laki-laki bernama Ling yang waktu itu juga hadir, seperti yang lain, dia juga menerima sebutir benih. Dia pulang dan dengan bersemangat menceritakan seluruh kisah kepada ibunya. Ibunya membantu mencarikan sebuah pot, mengisinya dengan tanah yang subur, kemudian mereka menanam benih itu dan setiap hari menyiramnya dengan hati-hati, setiap hari dia terus mengamati apakah benihnya sudah mulai tumbuh.
Setelah dua minggu, beberapa pemuda mulai membanggakan benih mereka masing-masing serta tanaman yang mulai tumbuh. Ling terus berjalan pulang dan memeriksa benihnya, tapi tidak ada yang tumbuh. Tiga minggu, empat minggu, lima minggu berlalu, tak ada sesuatupun yang tumbuh.
Sementara itu anak yang lain mulai ramai membicarakan tanaman mereka, namun Ling tidak punya tanaman, dia merasa gagal. Enam minggu berlalu, di pot Ling tetap tidak tumbuh apa-apa. Dia tahu dia telah membunuh benihnya. Semua orang punya pohon dan tanaman yang tinggi, tapi dia tidak memiliki apapun. Ling tidak mengatakan apa-apa kepada teman-temannya, namun, dita tetap berharap benihnya akan tumbuh.
Akhirnya setahun telah berlalu dan semua pemuda di kerajaan itu membawa tanaman mereka agar diperiksa Kaisar. Ling memberitahu ibunya bahwa dia tidak mau membawa pot kosong. tetapi ibunya mendorongnya agar Ling tetap pergi dengan membawa potnya, dan berkata jujur atas apa yang sebenarnya terjadi. Perut Ling terasa mual, tetapi dia tahu bahwa ibunya benar. Dia membawa pot kosongnya ke istana.
Ketika Ling sampai, dia sangat takjub akan berbagai tanaman yang ditumbuhkan oleh pemuda yang lain. Tanaman mereka begitu indah, dalam berbagai bentuk dan ukuran. Ling meletakkan pot kosongnya di lantai, banyak pemuda lain mentertawakannya. Ada juga yang merasa ikut menyesal dan berkata, “Paling tidak kamu sudah mencoba.”
Ketika kaisar tiba, dia meninjau seluruh ruangan sambil menyapa para pemuda itu. Ling berusaha menyembunyikan diri di belakang, “Wah, alangkah indah tanaman-tanaman, pohon dan bunga yang kalian tumbuhkan,” kata kaisar. “Hari ini, salah seorang dari kalian akan ditunjuk sebagai kaisar baru.”
Tiba-tiba kaisar melihat Ling di belakang ruangan dengan pot kosongnya. Kaisar memberi perintah agar para pengawal membawanya ke depan, Ling sangat ketakutan, “Kaisar tahu kalau aku gagal, mungkin saja dia akan membunuhku!”
Ketika Ling sampai di depan, kaisar bertanya siapa namanya. “Nama hamba Ling tuanku.” Semua pemuda yang lain mentertawakan dan mengolok-oloknya. Kaisar memerintahkan agar semua diam. Dia menatap Ling, kemudian mengumumkan, “Pandanglah kaisar baru kalian! Namanya adalah Ling!”
Ling tidak percaya apa yang baru saja terjadi. BahBukankah Ling tidak berhasil menumbuhkan benihnya? Bagaimana mungkin dia ditunjuk menjadi kaisar baru?
Kaisar berkata, “Setahun yang lalu, aku memberi semua orang yang hadir di sini sebutir benih. Aku perintahkan kalian membawa pulang benih itu, menanamnya, menyiramnya, dan membawanya kembali kemari hari ini. Tapi benih yang kuberikan, sebelumnya telah direbus dan tidak mungkin bisa tumbuh. Kamu semua, kecuali Ling, membawa kemari pohon, tanaman dan bunga. Ketika kalian dapati benih kalian tidak tumbuh, kalian menanam benih lain sebagai pengganti benih yang kuberikan. Ling adalah satu-satunya orang yang dengan berani dan jujur membawa kemari pot dengan benih yang telah kuberikan di dalamnya. Karenanya, dialah orang yang akan menjadi kaisar baru!”

Kejujuran

Suatu ketika seorang hakim tua diminta untuk menyelesaikan persengketaan di antara dua orang bersaudara mengenai pembagian tanah yang luas yang diwariskan ayah mereka. Hakim itu kemudian memutuskan: “Biarlah salah satu dari mereka berdua membagi tanah warisan itu menjadi dua, dan biarkan saudaranya memilih terlebih dahulu.”
Dalam skala yang jauh lebih kecil, ibu saya juga menggunakan sistem yang sama untuk menengahi pertengkaran antara saya dengan kakak saya ketika kami masih kecil.
Ibu menamakannya “aturan membagi kue.” Ketika kami bertengkar mengenai potongan kue yang kami terima, ibu memutuskan: salah satu dari kami yang membagi kue itu menjadi dua dan yang lain memilih terlebih dahulu potongan mana yang dia inginkannya.
Pembagian yang adil
Pada saat mereka berumur dua atau tiga tahun, anak-anak akan bereaksi bila mereka merasa bahwa wilayah, hak, dan rasa keadilan mereka terusik.
Di rumah, di tempat bermain, atau di sekolah, sering kali anak-anak terdengar berteriak,”Tidak adil!” Secara alami mereka mempertahankan hak mereka masing-masing, anak-anak dapat belajar menyampaikan nilai-nilai moral ini kepada orang lain.
Anda bisa mengajarkan kepada anak-anak bahwa orang yang bermartabat melakukan apa yang benar, jujur dan adil.
Walaupun tugas para orang tua modern tidak semudah kedengarannya, atau tidak sesederhana seperti dulu lagi.
Dalam masyarakat yang mempunyai berbagai definisi yang berbeda, sedemikian banyak kepentingan yang saling bersaing, begitu banyak tuntutan yang saling bertentangan, bahkan ketika pengadilan dipenuhi dengan perdebatan yang ingin memaksakan kebenaran dan keadilan versi masing-masing, bagaimana Anda dan anak-anak Anda tahu mana yang patut, mana yang adil, mana yang benar?
Untuk membantu mereka, dan juga Anda dalam memutuskan, ceritakanlah kisah berikut:
Seorang pemuda mengetuk pintu rumah seorang ibu, menawarkan apakah dia mau membeli rambutan lezat yang baru dipetik dari kebun keluarganya.
“Ya,” kata ibu tadi. “Aku sangat suka membeli rambutanmu yang segar itu. Biarkan aku membawa keranjang rambutanmu ke dalam, aku akan mengambil dan menimbang sebanyak satu kilo.”
Anak muda itu berdiri di beranda dan mulai bermain dengan anjing ibu tadi. “Silahkan masuk dan menyaksikan apakah aku menimbang rambutan ini dengan benar.” kata ibu itu. “Bangaimana kamu tahu aku tidak akan mencurangimu dan mengambil lebih dari sekilo?”
Anak muda itu menjawab, “Saya tidak khawatir bu, karena kalau itu ibu lakukan, ibu sendiri yang akan rugi.”
“Rugi?” tanya ibu tadi “Bagaimana mungkin? Apa maksud perkataanmu?”
Lalu anak muda itu berujar, “Kenapa? Kalau ibu mengambil rambutan itu lebih dari sekilo seperti yang harus ibu bayar kepada saya, saya hanya kehilangan beberapa buah rambutan saja. Tetapi ibu akan menjadikan diri ibu sendiri sebagai seorang penipu dan pencuri.”
Seperti yang dikatakan pepatah Rusia, “Dengan kejujuran, Anda dapat melakukan perjalanan keliling dunia. Dengan ketidak jujuran, Anda bahkan tidak dapat melewati perbatasan.”
Kisah yang lain
Di sebuah kota kecil, ada seorang hakim, di mana hanya ada seorang hakim lain lagi selain dirinya, yang melayani seluruh kegiatan pengadilan di situ, di mana-mana dia sangat dihormati karena keputusannya selalu adil dan tidak pernah memihak.
Suatu hari, isteri hakim itu naik pitam karena dia yakin bahwa pelayannya, seorang gadis yatim piatu yang miskin, telah mencuri barang berharga dari rumahnya.
Dengan ketakutan, tetapi dengan gigih pelayan itu menyangkal tuduhan majikannya itu, tetapi isteri hakim itu malah berkata, “Biar pengadilan saja yang memutuskan perkara ini nanti.”
Ketika hakim itu mendengar keputusan isterinya, dengan segera dia mengenakan pakaiannya yang terbaik.
“Mengapa kamu mengenakan pakaianmu yang bagus?” tanya isterinya. “Kamu tahu bahwa tidak pantas kalau kamu menemani aku ke pengadilan. Aku yakin aku dapat membela perkaraku sendiri.”
“Aku yakin kamu bisa,” Jawab hakim itu. “Tapi siapa yang akan membela kasus pelayanmu, yatim piatu miskin ini? Aku kepengadilan untuk meyakinkan bahwa keadilan penuh yang akan diterimanya”
Tidak selalu mudah berlaku benar atau berlaku adil, untuk membela kebenaran, terutama bila terlalu banyak yang harus dipertaruhkan, terutama ketika teman dan rekan sejawat, atau bahkan anak-anak Anda, akan tersinggung atau sakit hati karenanya. Tetapi berlaku adil dan berperilaku jujur adalah tanda dari orang yang bermartabat. Berlaku jujur dan adil berarti lebih dari sekedar melakukan yang benar dan adil. Memperjuangkan keadilan berarti berupaya meluruskan yang salah, melenyapkan pelecehan dan mengupayakan peningkatan martabat manusia di dunia yang mengasyikkan tetapi tidak sempurna ini.

Charice Pempengco

Mungkin awalnya banyak orang yang belum mengenal siapa Charice Pempengco, tapi semenjak video menyanyinya di
download oleh jutaan pengunjung di situs YouTube, yang penasaran mendengar suaranya dan ditambah penampilan Charice
di acara Oprah Winfrey, akhirnya namanya perlahan mulai terdengar di beberapa penjuru dunia. . Kisah seorang gadis yang
baru berusia 16 tahun dari Filipina ini banyak membuat orang terkagum-kagum karena talenta yang ia miliki. Hobi
menyanyinya ternyata mampu membuat ia menjadi salah satu penyanyi muda yang banyak dilirik oleh musisi dunia seperti
David Foster.

Charice hidup dari keluarga yang bisa dikatakan tidak berkelimpahan harta, dan salah satu yang menjadi motivasi ia untuk
menyanyi adalah ingin membantu keluarganya. Banyak orang mengatakan bahwa ia tak akan mampu karena usianya masih
terlalu muda, ia kurang cantik untuk menjadi penyanyi. Tapi komentar negatif orang lain tidak justru mengecilkan dirinya,
melainkan Charice ingin membuktikan bahwa ia bisa. Akhirnya, Charice sering mengikuti berbagai kontes menyanyi dengan
iming-iming hadiah 50-100 dollar. Charice menganggap paling tidak apabila hadiah itu ia dapat, dapat sedikit meringankan
beban keluarga, untuk makan sehari-hari. Tak sia-sia, usaha dan keyakinan akan potensi yang dimilikinya membuat ia sering
memenangkan kontes menyanyi. Karena hobinya dalam menyanyi, ia pernah menggambarkan dirinya suatu hari duet dengan
penyanyi ternama Andrea Bocelli dan Celine Dion. Ternyata apa yang pernah ia gambarkan telah menjadi kenyataan. Charice
bahkan diundang khusus oleh Celine Dion dan Andrea Bocelli dalam salah satu tur konser mereka.
Pembaca yang setia, banyak pelajaran menarik dari kisah Charice ini yang mungkin dapat menginspirasi kita semua

1. Jangan pernah merasa kecil
Orang lain boleh saja meremehkan Anda, tapi jangan sekali-kali Anda menganggap remeh diri sendiri. Anda dikaruniai
sebuah talenta, anugrah, dan karunia untuk menjadi yang terbaik. Tak peduli berapa usia Anda, tak peduli apa latar belakang
keluarga Anda, Anda bisa menjadi yang terbaik. Jangan hiraukan penyataan negatif yang hanya akan mengkerdilkan Anda.
Satu hal yang perlu Anda ingat, Anda terlahir untuk menjadi seorang pemenang

2. Jangan takut untuk bermimpi
Apapun situasi yang Anda hadapi, tak ada yang dapat melarang Anda untuk berharap dan bermimpi. Charice bermimpi
dengan menggambarkan dirinya dengan Celine Dion. Dia memvisualisasikan itu semua. Beberapa tahun berikutnya hal itu
menjadi kenyataan. Mungkin bagi sebagian orang "memiliki impian" adalah sesuatu yang klasik, banyak buku dan seminar
sudah mengatakan hal serupa. Tapi apakah kita sudah benar-benar mempercayai impian kita. You just need to believe, my
friend. Jangan biarkan faktor eksternal membuat kita ragu akan impian kita.

3. Fokus pada kelebihan Anda
Focus on what you can do, and don't focus on what you can't do. Jangan habiskan waktu Anda untuk mengeluh dan meratapi
kekurangan Anda. Mulai alihkan pemikiran Anda kepada kelebihan dan potensi yang Anda miliki. Manusia diberi waktu yang
sama 24 jam sehari, tapi berapa banyak jam yang dihabiskan untuk fokus pada kelebihan atau kekurangan itulah yang
membedakan kualitas manusia tersebut.

4. Punya target, visi dan misi
Anda boleh susun visi, misi dan target yang luar biasa hebatnya untuk perusahaan, tapi jangan lupa susun pula untuk diri
sendiri. Charice memiliki misi yang sederhana, yaitu untuk membantu keluarganya. Itulah yang mendorong ia untuk tidak
berhenti mencoba dan menggali potensi menyanyinya. Ketika Anda mulai merasa 'down', tertekan, malas, ingat kembali apa
tujuan hidup Anda. Semoga bisa membangkitkan Anda kembali ketika Anda jatuh.

You are never too young, and never too old to inspire the world around you (Victoria Osteen)